Rabu, 26 November 2014

Evolusi Seragam Merah Liverpool FC

50 tahun yang lalu Liverpool mengenakan seragam berwarna merah-merah untuk pertama kalinya dalam sejarah klub dan galeri foto kami menunjukkan bagaimana seragam kandang yang ikonik telah berubah sejak November 1965.
Berikut galeri-nya dari tahun 1965 hingga saat ini tahun 2014 :


Tahun 1965

Tahun 1969

Tahun 1974

Tahun 1977

Tahun 1980

Tahun 1983

Tahun 1986

Tahun 1988

Tahun 1989

Tahun 1991

Tahun 1993

Tahun 1994

Tahun 1996

Tahun 1997

Tahun 1999

Tahun 2001

Tahun 2003

Tahun 2005

Tahun 2007

Tahun 2009

Tahun 2011

Tahun 2012

Tahun 2013

Tahun 2014
Read more »»  

Selasa, 22 Juli 2014

Steven Gerrard Pensiun dari Timnas Inggris



Stevie-G saat terakhir membela Timnas Inggris, 25 Juni 2014


Source: http://indonesia.liverpoolfc.com/news/latest-news/rekam-jejak-gerrard-di-timnas
Read more »»  

Selasa, 17 Juni 2014

Jadwal Piala Dunia Brasil 2014

Bagi sobat sobit yang membutuhkan jadwal pertandingan sepakbola Piala Dunia Brasil 2014, lengkap dengan jam tayang Waktu Indonesia Tengah (WITA), dan dikemas dalam file MS-excel, sehingga bisa dilakukan pengisian hasil pertandingan.

Berikut Penampakannya:

Yang berminat, langsung sedot >> Jadwal Piala Dunia Brasil 2014
Read more »»  

Selasa, 13 Mei 2014

Kisah Seorang Gadis Buta


Pada suatu ketika, ada seorang gadis buta yang dipenuhi rasa permusuhan dan sangat membenci dunia. Dia membenci dirinya sendiri hanya karena dia buta. Dia membenci semua orang, kecuali kekasihnya, yang entah bagaimana telah mampu menerobos penghalangnya (kebencian). Dia selalu ada untuknya. Dia mengatakan kepada si gadis bahwa ia hanya bisa melihat dunia jika menikah dengannya.

Suatu hari, ada seseorang yang mendonorkan sepasang mata kepadanya dan kemudian dia bisa melihat semua hal, termasuk kekasihnya. Ketika itu kekasihnya ada di sana saat dia keluar dari ruang operasi dan kemudian ketika dokter melepas kain penutup matanya, dia sangat-sangat senang dan menggelegak dengan sukacita karena dia sekarang dapat melihat semua yang ada di sekelilingnya. Dia akan segera melihat indahnya dunia di luar sana. Kemudian kekasihnya bertanya, "Sekarang kamu sudah bisa melihat dunia, maukah kau menikah denganku?."

Spontan gadis itu terguncang saat melihat kekasihnya yang ternyata buta juga, dan menolak untuk menikah dengannya. Karena dia sekarang ingin seseorang yang bisa melihat dunia bersamanya. Kekasihnya lalu berjalan pergi dan menangis. Kemudian ia menulis surat kepada si gadis dan berkata. "Aku mengerti. Aku hanya ingin kau bisa selalu bahagia. Jaga dirimu, dan mata saya."

Kisah di atas adalah tentang bagaimana pikiran manusia bisa berbeda disaat statusnya berubah .
Hanya sedikit ingatan bagaimana keadaan hidup sebelumnya, dan siapa yang selalu ada di sampingnya, bahkan di saat yang paling sulit sekalipun.


Source: http://beforeitsnews.com/
Read more »»  

Selasa, 28 Januari 2014

Di Hadapan Anfield nan Klasik Itu


Liverpool - "This is Anfield adalah sebuah statement." Demikian ucapan Kevin, pria yang mengantarkan kami berkeliling Anfield. Dia begitu bangga dengan ucapan yang dicetuskan oleh Bill Shankly tersebut.

"Besok kedua kapten akan berdiri di bawah logo ini sebelum memasuki lapangan. Bill Shankly menaruhnya karena kebanyakan stadion di Inggris menulis 'Welcome to...' atau 'Home of...'. Bill Shankly ingin sesuatu yang berbeda. Sesuatu yang bisa mengintimidasi lawan," ucap Kevin.

Pria berkepala plontos itu lantas melanjutkan cerita mengenai The Kop, tribun termahsyur di Anfield itu, dan bagaimana ramainya tribun tersebut di tiap-tiap laga. Apalagi pekan ini Liverpool akan menjamu rival sekota, Everton.

"Ini adalah pengabadian untuk mereka, suporter-suporter yang sangat passionate terhadap Liverpool. Mereka tidak akan berhenti bernyanyi sepanjang pertandingan."

"Saya sendiri cukup beruntung bisa menyaksikan banyak pertandingan. Masing-masing pertandingan punya kenangan tersendiri buat saya soal The Kop," ucapnya.

Anfield mungkin hanya berjarak "sepelemparan batu" dengan Goodison Park. Hanya dipisahkan oleh Stanley Park. Keduanya bahkan punya sejarah yang sama --sama-sama pernah berumah di Anfield. Oleh karenanya, derby Merseyside dianggap sebagai salah satu yang paling intens di tanah Inggris.

Ketika saya dan rombongan Garuda Indonesia tiba di Liverpool pada Minggu malam (26/1), reklame mengenai pertandingan itu sudah terpajang di beberapa sudut kota. Stasiun televisi yang menyiarkan juga mengambil untung dengan memasang iklan bertuliskan "More Than 3 Points at Stake."

Ya, jarak poin Liverpool dan Everton di klasemen memang sedekat jarak Anfield ke Goodison Park, tapi ada lebih dari tiga poin dipertaruhkan di sini. Yang satu tidak ingin menanggung malu di hadapan yang lainnya.

"Saya cukup yakin Daniel Sturridge dan Luis Suarez sudah cukup untuk menjadi amunisi kami di lini depan. Sekarang tinggal tergantung kami, para bek, untuk menjaga pertahanan sebaik mungkin," ujar Kolo Toure di koran lokal.

Toure cukup beruntung sudah pernah mencicipi berbagai derby di Inggris, mulai dari derby London Utara hingga Manchester. Namun, dia belum pernah sekalipun bermain di derby Merseyside. Abang dari Yaya Toure ini pun agak penasaran seperti apa rasanya bermain di derby tersebut --meski dia sudah banyak mendengar cerita mengenainya.

Keluarga-keluarga di Liverpool akan terbiasa datang berbondong-bondong ke stadion untuk menyaksikan si merah dan si biru saling baku hantam. Si ayah adalah penggemar Liverpool, sementara mungkin si istri atau anaknya adalah pendukung Evrerton.

Jangan heran jika Anda mendengar bahwa Jamie Carragher dan Michael Owen adalah penggemar Everton semasa kecil, karena memang demikianlah keadaan di sini. Derby Merseyside menghadirkan rivalitas yang begitu tegang, tetapi juga begitu intim.

Pada era 90-an hingga awal 2000-an, Merseyside juga dikenal sebagai salah satu tempat lahirnya bakat-bakat menjanjikan. Dulu Everton punya Danny Cadamarteri, Francis Jeffers, ataupun James Vaughan yang sempat digadang-gadang jadi masa depan klub mereka. Namun, pada akhirnya, nama-nama itu tenggelam di hadapan pemuda-pemuda Anfield seperti Owen, Carragher, Jamie Redknapp, hingga pemuda yang dulu mengenakan kostum nomor 17 bernama Steven Gerrard.

Dalam kelanjutannya, Everton akhirnya menghasilkan pemuda-pemuda hebat lainnya: Wayne Rooney, Jack Rodwell, hingga kini Ross Barkley. Bahkan Barkley, yang kini berusia 20 tahun, sudah digadang-gadang menjadi penggawa lini tengah tim nasional Inggris di masa depan.

Begitu banyak kemiripan antara keduanya yang tidak terbantahkan. Liverpool dan Everton adalah dua saudara kandung yang seperti ingin berebut perhatan dari orang tua mereka. Si kakak yang seperti terpinggirkan karena keberadaan si adik akan selalu mengincar kesempatan untuk mengklaim perhatian itu.

Salah satu iklan bahkan mengklaim sebagai derby paling sukses di tanah Inggris. Ukurannya jelas, Liverpool adalah pengoleksi 18 gelar juara liga, sementara Everton 9. The Toffees adalah klub keempat dalam urusan pengoleksi gelar juara Liga Inggris terbanyak --di bawah Manchester United, Liverpool, dan Arsenal.

Jika urusannya adalah trofi liga, derby Merseyside berbeda dengan rivalitas Arsenal-Tottenham Hotspur yang begitu timpang, hingga United-Manchester City. Baik Liverpool dan Everton boleh bertepuk bangga karena mereka punya sejarah dan tradisi panjang soal trofi itu.

"Lihat saja besok. Atmosfernya akan beda," ujar Kevin lagi.

Di hadapan Anfield yang klasik itu, kedua saudara itu akan bertemu.


Akun twitter penulis: @rossifinza dari @detiksport
Source: http://sport.detik.com/sepakbola/read/2014/01/28/140553/2480600/72/1/di-hadapan-anfield-nan-klasik-itu



Read more »»  

Rabu, 22 Januari 2014

One-Man Team (Bagian 1)

Salahkah Membangun Tim dengan Bertumpu Pada Satu Pemain?

 

Katanya, Liverpool tidak bisa apa-apa tanpa Luis Suarez. Lalu kenapa? Membangun tim dengan fokus permainan pada satu bintang terbukti jadi salah satu jalur menuju kesuksesan.

Mari layangkan ingatan kita kembali ke musim lalu, pada kala Gareth Bale sedang jaya-jayanya bersama Tottenham Hotspur. Banyak yang berkata bahwa tanpa Bale, Spurs hanyalah sebuah tim papan tengah. Bale terlalu bagus untuk mereka. Musim lalu, bisa dibilang bahwa Spurs berlabel "one-man team". Sebuah atribut yang bisa berarti positif maupun negatif.

Permainan Bale begitu mencolok musim lalu. Namun, apakah ini merupakan sesuatu yang buruk?

Well, sejujurnya Spurs tanpa Bale seperti macan tak bergigi. Hal yang sama juga berlaku untuk Luis Suarez di Liverpool, Barcelona tanpa Lionel Messi, Real Madrid tanpa Cristiano Ronaldo, dan tim-tim berlabel one-man team lainnya sepanjang sejarah permainan ini berlangsung.

Pertanyaannya adalah, bolehkah tim-tim ini terlalu tergantung pada satu pemain saja untuk mencetak gol, assist, dan segala sesuatu yang lain yang berbau kebrilianan dalam menyerang? Jika memiliki senjata yang begitu tajam, kenapa tidak boleh memaksimalkan potensi sang senjata hingga ke titik tertingginya?

Menelisik Definisi One-Man Team

Sebelum berbicara banyak, mari bertanya. Apakah definisi dari one-man team? Percaya atau tidak, "one-man" tersebut bisa berarti banyak. Secara umum, pada banyak kasus, artinya adalah tim yang bergantung pada pemain yang paling bertalenta. Arti kata "paling" ini adalah "sangat jauh di atas rekan-rekannya".

Satu hal lagi yang tidak bisa dipungkiri adalah si pemain bintang pada one-man team biasanya beroperasi pada area attacking third lapangan. Maknanya, ia adalah seorang pemain depan, atau pemain tengah yang gemar menyerang.

Contoh-contohnya seperti: Argentina dengan Maradona-nya pada Piala Dunia Meksiko 1986, Southampton dengan Matt Le Tissier pada tahun 1990-an, dan juga Blackburn Rovers dengan Alan Shearer kala menjuarai Liga Inggris 1994-1995.

Tim-tim di atas adalah tim yang dihuni oleh pesepakbola dengan talenta penyerangan yang luar biasa. Sementara pada kasus Barcelona (Messi) dan Real Madrid (Ronaldo), kedua tim ini memiliki mega-bintang yang juga bahu-membahu bersama pemain-pemain lainnya yang memang kelas dunia.

Dua Tipe One-Man Team

Ada beberapa perbedaan dari one-man team, yang bisa dilihat dari cara permainan sebuah tim. Secara umum saya akan membagi ke dalam dua tipe. Namun, masing-masing memiliki variasinya sendiri-sendiri. 

One-Man Team tipe pertama adalah yang paling sederhana: tim yang membangun taktik dan strategi untuk memaksimalkan potensi satu pemain utama. Dari sinilah penggunaan istilah "one-man team" muncul.

Namun, meski terdengar sebagai strategi yang tidak bisa diandalkan, sebenarnya one-man team sudah jadi praktik yang lazim. "Sudah menjadi hal yang wajar untuk membangun sebuah tim di sekitar satu pemain yang paling menonjol", ujar Robbie Mustoe, mantan gelandang Middlesbrough yang sekarang menjadi seorang analis sepakbola.

Mari kembali ke ilustrasi Gareth Bale di Spurs musim lalu. Menurut Mustoe, Andre Villas-Boas mengerti bahwa dengan kemampuan Bale, pasti pemain ini dibutuhkan untuk berada pada area tengah lapangan. Akibatnya, AVB akan memastikan pemain-pemain lainnya untuk menutup ruang di sisi yang Bale tinggalkan.

"Kredit untuk Bale yang bisa memerankannya, dan juga untuk AVB yang menyadari pentingnya strategi tersebut untuk tim," tambah Mustoe.

Contoh lainnya adalah Messi pada musim 2010-2011, ketika ia mulai banyak mencetak gol. Pada musim sebelumnya Messi hanya mencetak 17 gol untuk Barcelona. Tapi, dengan skema permainan Barca, sampai sekarang angka gol Messi sudah lebih dari 200 gol (223 gol tepatnya, dan masih terus bertambah sampai saya menulis artikel ini, dan bertambah banyak lagi sampai Anda membaca artikel ini).

One-man team tipe kedua adalah tim yang biasanya tidak memiliki banyak cing-cong pada taktik. Pada tim seperti ini, ada kecenderungan pemain tampil menjadi "jimat". Salah satu contohnya adalah pemain seperti Michael Ballack, yang (hampir) bisa dibilang seorang diri saja berhasil membawa Jerman ke final Piala Dunia 2002.

Waktu itu, Jerman ke final dengan hanya mengandalkan dua pemain bintang. Bisa dikatakan, kiper Oliver Kahn adalah satu-satunya rekan setimnas Ballack yang bisa disejajarkan sebagai pemain kelas dunia.

Ballack adalah "jimat" Rudi Voeller. Pelatih Jerman ini tidak merancang permainan Ballack, tapi Ballack sudah dengan sendirinya bisa merancang permainan rekan-rekannya. Ballack tampil sebagai seorang gelandang perusak, perancang, dan pencetak gol dari lapangan tengah.

Lalu ada Diego Maradona pada kategori yang sama namun pada tingkat yang lebih "dewa". Ia membayar lunas kepercayaan Carlos Billardo untuk membangun skuad pemenang Piala Dunia 1986, Argentina, dengan kepemimpinan, kesaktian, dan juga kenakalannya.

 

Namun, bahkan salah satu pemain terbesar sepanjang masa pun menyadari bahwa ia bukanlah apa-apa tanpa 10 pemain lainnya.

Maradona tidak sendirian dalam berpikir bahwa satu orang tidak bisa memenangi pertandingan seorang diri. "Kamu tidak bisa membiarkan tim kamu berpikir bahwa mereka adalah one-man team", kata Dave Merrington, sang manajer Southampton pada era kejayaan Matt Le Tissier. "Kamu harus memastikan mereka menghormati peran-peran mereka dan juga rekan-rekan setimnya," kata Merrington.

One-man team mungkin akan berhasil. Tapi tidak dalam jangka panjang, jika si pemain bintang percaya dia melakukan itu semua sendiri. Dua contoh terbaik dari sang pemain egois adalah Romario dan Robin Friday. Saat bermain untuk PSV Eindhoven pada 1988, Romario merupakan pemain brilian yang bermain untuk dirinya sendiri dan berlatih untuk dirinya sendiri. Tidak heran kemudian ia malah dibenci rekan-rekan setimnya. 

Cerita serupa juga terjadi pada Robin Friday pada tahun 1970-an. Digadang-gadang sebagai bintang Inggris, ia malah menghabiskan karirnya yang singkat bersama Reading di divisi tiga, karena dinilai terlalu egois.

Buah Simalakama Taktik One-Man Team

Salah satu peran manajer adalah sebagai penyeimbang. Adalah manajer yang harus memutuskan bahwa satu pemain akan menjadi titik fokus tim. Ia harus mempertimbangkan apakah "mengasingkan" salah satu pemain dari rekan-rekan lainnya adalah risiko yang layak diambil.

Banyak yang mengatakan seorang manajer harus menjadi seorang ahli taktik dan juga ahli psikologi. Sayangnya, hal ini akan sangat sulit berlaku bagi manajer yang mencoba membangun timnya di sekitar satu orang pemain saja.

Phil Brown mengaku kesulitan untuk membangun one-man team. Ini terjadi pada saat ia merancang formasi menyerang 4-3-1-2 Hull City pada 2009. Membuat fokus timnya pada gelandang magis Brasil, Geovanni, Brown sebenarnya sukses untuk membuat timnya berhasil bertahan mengarungi ketatnya Premier League Inggris.

Namun, Phil Brown malah berkata bahwa sebuah tim tidak dapat menang dengan mengandalkan individual, meski ia memiliki seorang pemain yang bisa melakukannya. Ini karena ia dihadapkan pada situasi yang serba salah.

Sebagai contoh adalah yang terjadi pada Matt Le Tissier ketika Alan Ball mencoba membangun tim Southampton di sekitar pemain jenius tersebut. "Ball menyuruh saya untuk selalu berada di tengah lapangan. Kemudian ia berkata kepada pemain lainnya bahwa sayalah pemain yang paling bagus, dan sayalah peluang terbaik mereka untuk keluar dari masalah. Jadi semuanya selalu mengoper bola kepada saya," ujar Le Tissier.

Dengan strategi itu, pemain yang terkenal dengan julukan Le God di pantai Selatan Britania itu mencetak 25 gol untuk menghindarkan The Saints dari degradasi pada musim 1994-1995. Ia juga mencetak 20 gol lagi pada musim berikutnya untuk membawa Southampton ke posisi 10 klasemen Liga Inggris.

"Selama saya bermain baik dan kami tidak kalah, tidak ada masalah. Tapi pada beberapa kesempatan ketika saya tidak bermain baik, saya merasakan ada sedikit kebencian dari rekan-rekan setim."

Ketika pemain-pemain istimewa ini berhasil bermain konsisten dan memenangkan pertandingan, pemain-pemain lainnya mungkin akan sedikit longgar kepada si pemain bintang pada saat pertandingan. Namun ketika mereka bermain buruk, semuanya kembali lagi kepada kultur tim. Pemain-pemain senior serta manajer memiliki peran jadi contoh untuk rekan-rekannya.

Sebagai manajer, ia harus bisa mengenal si pemain jenius ini. Manajer juga harus memiliki beberapa pemain yang bertipe krusial, sehingga terdapat keseimbangan yang baik: si pemain jenius ini akan berperilaku baik di dalam maupun di luar lapangan, juga anggota tim lain akan lebih mudah menerima peran si jenius sebagi fokus tim.

Ego bukanlah hal yang mudah untuk ditangani. "Setiap pemain butuh merasa untuk dibutuhkan, dicintai, dan dihargai. Itu berlaku tidak hanya untuk pemain-pemain yang istimewa saja," ujar Tom Bates, salah seorang psikolog olahraga.

Bates menggunakan contoh ketika Pep Guardiola mengizinkan Lionel Messi untuk bermain pada Olimpiade 2008 untuk Argentina. Pep, yang berhasil memenangi medali emas Olimpiade pada tahun 1992, bisa melihat hal ini melalui perspektif yang positif.

Hal ini terjadi jauh sebelum Messi menjadi mesin gol Barcelona. Kala itu Pep bisa berkata kepada Messi, "Pergi dan menangkanlah medali emas tersebut, tapi ketika kamu kembali ke sini, cetaklah banyak gol untuk kita," dan Messi melakukan semuanya. Itu adalah cara Guardiola untuk mengatakan, "Saya menghargaimu".

*akun Twitter penulis: @dexglenniza

Source: http://sport.detik.com/aboutthegame/read/2014/01/20/165934/2472554/1482/4/salahkah-membangun-tim-dengan-bertumpu-pada-satu-pemain


Read more »»  

Kamis, 26 Desember 2013

Gaya Bermain Tim Sepakbola: Antara Idealisme, Realitas dan Mitos


"Sederhana. Ia tidak memainkan gaya Tottenham (Tottenham way),"kata seorang penggemar klub ini dengan penuh percaya diri, dalam sebuah diskusi radio tentang pemecetan Andre Villas-Boas beberapa waktu lalu.

Gaya Tottenham?

"Menyerang, operan bola yang cepat, keterampilan tinggi, imajinatif, inovatif dan seterusnya dan seterusnya. Pokoknya permainan yang menawan dan menghibur," begitu penjelasan pendukung Tottenham kalau ditanya.

Tetapi tunggu dulu. Bukankah gaya permainan seperti itu pula yang diklaim oleh pendukung Arsenal, Liverpool, Manchester United, Chelsea, dan sekian klub besar dan kecil Inggris lainnya.

Anda ingat ketika pendukung West Ham menyatakan penolakan mereka dengan penunjukan Sam Allardyce sebagai manajer? "Allardyce dengan gaya asal tendang ke depan akan merusak gaya West Ham (West Ham way),’" kata penolaknya. West Ham way yang dimaksud tentu saja sama dengan Tottenham way di atas.

Bahkan tahun lalu pemecatan Tony Pulis oleh Stoke City juga dikait-kaitkan dengan hal ini. Pulis sering diejek penggemar bola lantaran menampilkan gaya bermain yang lebih mirip rugby --tabrak sana-sini-- ketimbang bermain bola. "Kami menginginkan pelatih yang bisa menampilkan gaya Stoke yang sesungguhnya," ujar penggemar Stoke yang mendukung pemecatan Pulis.

Gaya Stoke yang sesungguhnya? Anda mungkin boleh bertanya dengan sinis soal itu.

Tetapi janganlah mempertanyakan klaim dari Stoke ataupun klub-klub semenjana lain bahkan gurem, semacam yang diklaim Tottenhami itu. Pertanyaan yang lebih mendasar adalah mengapa begitu banyak (pendukung) klub yang melakukan klaim seperti ini?

Sama seperti juga kehidupan kelompok masyarakat lain, masyarakat bola sebenarnya selalu bergerak dalam tiga dataran: ideal, realitas-sejarah dan mitos. Tiga kaki yang membangun klaim hampir semua klub bola itu.

Kalau anda bertanya pada masyarakat, seperti apa tatanan sosial yang ideal itu, maka anda akan mendapat sekian macam jawaban yang berbeda, tergantung latar belakang sosial, politik dan keagamaan mereka. Tetapi tanyakan pada masyarakat bola permainan seperti apa yang ideal, jawabannya akan seragam seperti yang dikatakan pendukung Tottenham itu. Kecuali kalau mereka berbohong, tentu saja.




Idealisasi itu berakar pada kesadaran sepenuhnya bahwa yang paling mendasar dari permainan sepakbola, setelah dipangkas atribut-atribut lainnya, adalah permainan untuk hiburan. Dan tidak ada hiburan yang lebih menyenangkan dalam sepakbola selain gaya permainan yang mempertontonkan serangan, keterampilan yang tinggi, imajinasi dan inovasi. Itu puncak.

Beruntunglah bahwa idealisme itu bersifat nilai (dan karenanya abstrak). Ia bukan layaknya sebuah penemuan (benda) di bidang teknologi yang dipatenkan. Tidak ada pembatasan kepemilikan. Ia juga lebih mirip puisi yang kaya kalimat bersayap dan simbolik, yang telah lepas dari tangan penulisnya. Bisa ditafsir dan dimaknai sendiri oleh masing-masing pembacanya.

Itulah sebab begitu banyak klub mengklaim gaya ideal permainan sepakbola sebagai milik mereka. Karena gaya tersebut adalah bayangan permainan milik masyarakat sepakbola keseluruhan. Bukan ekslusif milik satu dua kelompok.

Kalaulah ada satu klub mengatakan filosofi klub mereka selalu menampilkan permainan yang ideal, maka kita sebenarnya sedang berbicara persoalan aspirasi. Di dataran realitas tidaklah selalu seperti itu. Ada konteks pertandingan, faktor pelatih, sejarah, dan tentu saja --seperti masyarakat pada umumnya-- amnesia selektif.

Kita berbicara saja tentang beberapa contoh, klub-klub yang saat ini dianggap besar dan juga rentang waktu yang jangan terlalu jauh.

Ambil contoh Arsenal. Para pendukungnya sekarang boleh mengatakan the Arsenal way, filosofi permainan bola sajian gaya menyerang indah polesan Arsene Wenger. Namun sedikit mundur saja ke belakang kita tahu bahwa Arsenal tidak selalu seperti itu.

"Boring boring Arsenal – Arsenal yang menjemukan" adalah nyanyian ejekan di pertengahan tahun 80an karena seringnya mereka menang tipis. Mencetak satu gol lalu tutup warung, mengandalkan pertahanan yang solid. Ejekan itu baru berakhir ketika Wenger masuk dan mengubah gaya permainan mereka. Bahkan, setahun setelah Wenger masuk, nyanyian ejekan itu masih sering terdengar di Highbury.

Liverpol menjadi raja domestik dan Eropa sepanjang 70an dan 80an karena mampu mengawinkan permainan kick and rush gaya Inggris dan bola-bola pendek khas Eropa daratan dengan cantik. The Liverpool way.

Tetapi yang dilupakan orang adalah pada saat bersamaan Liverpool sering menampilkan permainan yang sangat membosankan. "Kami menguasai seni safety first ke kiper," kata Alan Hansen, pilar jantung pertahanan Liverpool di masa jaya klub itu, suatu ketika.


Sangat negatif. Anda pasti ingat bahwa pada masa itu peraturan memperbolehkan kiper menangkap bola dari pemain mereka sendiri. Saat itu, Liverpool adalah rajanya untuk yang satu ini.

Manchester United way? "Cetak gol sebanyak mungkin gol ke gawang kami, kami akan mencetak lebih banyak lagi," kata pendukung klub ini seolah mewakili klub menjelaskan filosofi permainan mereka. Seolah menjanjikan permainan yang selalu menyerang, menarik dan terbuka.

Tetapi Manchester United tak selalu seperti itu. Salah satu kehebatan klub ini adalah bermain buruk tetapi tetap bisa menang dengan skor tipis. Dan itu sering.

Chelsea memainkan sepakboa yang lebih bagus ketika masih ditangani Glen Hoddle, Ruud Gullit maupun Gianluca Vialli. Para pendukung awalnya mengeluh ketika Jose Mourinho datang dan menyebutnya tak paham dengan the Chelsea way. Tetapi ketika Chelsea mulai mendominasi sepakbola Inggris, pendukungnya lupa, bungkam dan kemudian bergembira.


Anda tahu, amnesia selektif adalah kekhasan kita umat manusia. Mengingat dan menyimpan hanya yang kita mau, lalu mendorong yang tidak kita inginkan ke pinggir ruang ingatan. Dan ketika ranah ideal dan realitas bertemu menjadi satu, para penggemar bola melakukan proses seleksi yang sama. Sehingga yang mereka ingat hanyalah hal-hal yang mereka anggap cocok dengan permainan ideal sepakbola.

Itu yang terjadi di Liverpool, Manchester United, Chelsea, Arsenal, West Ham, Stoke dan sekian banyak klub lainnya.

Tentu saja dengan sejarah bola yang sudah begitu panjang di Inggris ini, setiap klub mempunyai satu masa, sekian pertandingan, sekian pelatih yang menampilkan permainan ideal itu. Bahwa ada juga yang kebalikannya, tidak masalah. Seperti saya katakan: yang berkebalikan, yang tidak sesuai dengan nilai-nilai ideal akan didorong untuk dibuang dan dilupakan dan dikatakan bukan gaya kami, tidak sesuai dengan filosofi kami dan lain sebagainya.

Di sinilah kemudian mitos mempunyai celah untuk masuk, menjembatani realitas dan yang ideal. Mitos, seperti kita tahu, pengertian sederhananya adalah dongeng untuk menjelaskan realitas yang dihadapi manusia terkait dengan "sesuatu" yang lebih besar (supra).

Ia, mitos dalam konteks klub sepakbola, adalah sebuah upaya untuk mendudukkan gaya permainan klub dalam atmosfer ideal permainan sepakbola. Amnesia selektif adalah prosesnya: upaya untuk melakukan eksklusi dan inklusi. Datanya tersedia di perjalanan sejarah klub.

Karenanya ketika orang mengatakan ......... way (silakan isi titik itu sendiri dengan klub yang mana saja), ia sedang mendongeng-mencoba menjembatani realita gaya bermain klubnya dan yang ideal-sepakbola yang seharusnya sebagai sebuah hiburan.

London, 20 Desember 2013.

Source:
http://sport.detik.com/aboutthegame/read/2013/12/23/114200/2449329/1489/4/gaya-bermain-tim-sepakbola-antara-idealisme-realitas-dan-mitos
Read more »»