Tampilkan postingan dengan label SPORT. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label SPORT. Tampilkan semua postingan

Kamis, 21 Januari 2016

Jalan Panjang Dua Raja di Inggris


Ada dua cara mencapai Liverpool dari Manchester. Pertama, dengan menaiki bus atau mobil pribadi. Kedua, dengan menaiki kereta. Untuk alasan sentimental, saya memilih yang kedua.

Tidak sulit memang. Cukup masuk jalan tol M62, berkendaralah dengan santai atau duduk saja dengan tenang di dalam bus. Dalam tempo sekitar satu jam sampailah kita di Liverpool. Tapi, apa menariknya? Toh, jalan tol, ya, begitu-begitu saja: banyak mobil lalu-lalang, melihat ke kiri-kanan pemandangannya juga sangat kaku.

Seolah-olah, dengan melintasi jalan tol, ada banyak hal terlewat. Tidak ada yang bisa dinikmati. Tidak ada seninya.

Saya memilih untuk melangkahkan kaki ke stasiun Manchester Piccadilly, melihat-lihat tiket off peak demi mendapatkan harga yang lebih murah, dan naik ke atas kereta. Waktu tempuh untuk sampai ke Liverpool relatif sama, sekitar satu jam. Tapi, di waktu-waktu awal tahun seperti ini, saya masih bisa melihat dahan-dahan kering berkelebatan dari jendela, tembok-tembok bata yang basah sehabis diguyur hujan, dan atap-atap kayu gelap dari rumah yang berjejer sama rata.

Kereta memelan begitu memasuki stasiun Liverpool Lime Street. Ia menerobos lorong panjang yang di kiri-kanannya berjejal bata-bata kusam berlumut. Seolah-olah, ia sedang menerobos lorong menuju masa silam. Ada nuansa klasik yang tak bisa ditawar-tawar.


Tidak ada jalan lain menikmati Manchester, dan juga Liverpool, selain menghayati dalam-dalam nuansa klasik dan kuno yang mereka tawarkan. Kedua kota di Barat Laut Inggris itu bukanlah kota metropolitan. Tidak semewah London atau segaduh Jakarta. Manchester membenci gedung-gedung tinggi. Sebagian besar gedung yang ada di pusat kota mereka, yang kini menjadi toko ataupun hotel, dahulunya adalah gudang katun di abad ke-19. Jalan-jalan kecil mereka dipenuhi kafe atau bar yang menggoda untuk dikunjungi.

Liverpool? Ah, Liverpool... Gaung kejayaan mereka masih tersisa di tembok-tembok tua di pelabuhan Albert Dock. Sama seperti Manchester, Liverpool terkadang terlihat begitu tua dan teramat lusuh, tapi pada saat bersamaan begitu hidup.

Menyeberanglah sedikit dari stasiun Liverpool Lime Street menuju Albert Dock. Berhentilah sejenak untuk membeli hamburger di pinggir jalan dan nikmatilah seraya melihat pengamen atau seniman pantomim mencari rezeki dari uang receh. Hiburan yang tidak mewah, memang, tapi cukup menyenangkan.


Bisa jadi, romantisme seperti itulah yang menarik Juergen Klopp untuk datang jauh-jauh dari Jerman, yang cuacanya lebih bersahabat, ke utara Inggris, yang cuacanya dingin dan kadang tidak bisa ditebak. Terlebih, di balik sosoknya yang sangar, saya mengira Klopp adalah pria filosofis yang kadang bisa larut dalam momen-momen tertentu.

Ketika masih menangani Borussia Dortmund, Klopp pernah menyentuh papan "This Is Anfield". Papan tersebut dipasang pada lorong yang menghubungkan ruang ganti pemain dan lapangan oleh Bill Shankly dengan tujuan untuk mengintimidasi lawan. "Supaya pemain tahu mereka bermain untuk siapa dan lawan tahu mereka melawan siapa!" kata Shankly. Klopp belum pernah bertemu Shankly, tapi seolah-olah ia tahu arti penting di balik papan tersebut.

Di luar itu, Klopp mungkin menemukan kesamaan antara Dortmund dan Liverpool. Kedua kota adalah kota kelas pekerja dan didiami oleh klub dengan pendukung yang punya hasrat besar. Dortmund punya "Yellow Wall" yang menduduki tribun sebelah selatan Westfalen, yang saban kali Dortmund bertanding tidak hentinya berjingkrakan dan memperagakan koreo. Sementara Liverpool punya "The Kop" yang tidak akan pernah berhenti bernyanyi sepanjang pertandingan.

Tapi, menjadikan Liverpool sebagai Dortmund baru adalah tugas yang amat sulit. Untuk membangun Dortmund yang ditakuti di Bundesliga, Klopp setidaknya butuh tiga musim. Di Liverpool, ia tidak bisa langsung membangun dari nol, tetapi harus lebih dulu mempertahankan bangunan yang sudah kepalang reyot untuk tetap berdiri.

Liverpool yang sekarang bukanlah skuat dengan karakteristik yang mirip dengan Dortmund-nya dulu. Oleh karenanya, jangan heran jika eks bek Liverpool, Jamie Carragher, mendorong Klopp untuk mulai mendatangkan pemain yang sesuai dengan karakter permainan yang diinginkannya.

Gegenpressing a la Klopp, dan keinginannya untuk memainkan sepakbola yang penuh peluh keringat, sesungguhnya amat cocok dengan karakteristik permainan di Inggris. Klopp punya modal, tapi implementasinya di lapangan masih belum sempurna. Pemain-pemain Liverpool bisa dengan disiplin melakukan pressing terhadap lawan --hingga membuat tim segigih Stoke City sekali pun kesulitan untuk memainkan bola--, namun masih buruk dalam penyelesaian akhir.

Pada akhirnya, gegenpressing bukan soal kekuatan fisik saja, tetapi juga soal kecerdasan untuk membuat keputusan tepat dan harus dilengkapi dengan lini depan yang klinis. Sebab, apa gunanya menekan, merebut bola dari lawan, lalu melakukan serangan cepat, jika akhirnya adalah tendangan melenceng dari sasaran.


Semalam, Liverpool menghadapi rival abadi mereka --tim dari kota seberang--, Manchester United. Mari jujur saja, kendati pun menghasilkan pemenang, laga tersebut jauh dari kata sempurna. Di babak pertama, United kesulitan, tidak bisa mengembangkan permainan, dan kesulitan menghadapi pressing Liverpool. Namun, berulang kali Liverpool gagal memaksimalkan peluang. Di babak kedua, Liverpool lengah, United mencetak gol dari satu-satunya shot on target mereka sepanjang laga, dan Liverpool masih saja kesulitan memaksimalkan peluang dan menaklukkan ketangguhan David de Gea.

Liverpool dan United, dua Raja Inggris ini, adalah kesebelasan-kesebelasan terbesar di tanah mereka. Tapi, yang terlihat sekarang adalah, mereka berusaha mati-matian untuk tetap berdiri supaya hegemoni mereka tidak aus dimakan zaman.

Derby of England tadi malam menunjukkan bagaimana kedua raja itu sedang berusaha menempuh jalan yang teramat panjang untuk bangkit kembali. Klopp masih menjalani tahap proses, sementara Louis van Gaal masih saja berkutat di masa transisi. Keduanya berjuang untuk membangkitkan lagi kejayaan masa lalu.

Menyaksikan Liverpool dan United tadi malam rasanya persis melewati lorong dengan tembok-tembok bata kusam itu. Bedanya, kita tidak tahu seberapa panjang lorong itu dan ke mana ia berujung.

Written By: Rossi Finza - detikSport
Read more »»  

Jumat, 26 Desember 2014

LFC Crest


Liver bird sudah lama menjadi simbol Liverpool FC. Diambil dari lambang pasukan kerajaan, logo tersebut pertama kali dipakai pada abad ke-20, sebagai medali juara kepada pemain yang memenangi Liga Inggris pada 1901.

Logo tersebut kemudian muncul di bendera klub saat menjuarai liga pada 1922, kaver program sejak 1935, juga muncul di gambar yang diambil pada 1930-an. Gambar itu memperlihatkan para pemain di Anfield mengenakan kostum logo Liver Bird.

Dua dekade berselang, logo tersebut muncul pada 1950. Tepatnya pada final kedua Piala FA sekaligus penampilan perdana LFC di Wembley. Hari itu menjadi waktu yang bersejarah bagi Liverpool karena Liver Bird terpasang di jersey para pemain.

Selama lima tahun berikutnya, Liverpool beberapa kali memakai kostum yang sama seperti dikenakan di Wembley. Setelah sebelumnya hanya pada laga kandang, Liver Bird akhirnya terpasang di jersey utama Liverpool mulai musim 1955-56 dengan tulisan "L.F.C" di bagian bawahnya.

Logo di jersey itu dipakai hingga 14 tahun berikutnya. Bentuk seragam juga ikut berubah. Pengecualian terjadi pada 1 Mei 1965 pada laga final Piala FA melawan Lees Uited di Wembley. Gambar Liver Bird menyatu dengan kostum, tidak lagi ditempelkan terpisah.

Pada 1969, bentuk oval yang mengelilingi Liver Bird dihilangkan. Daya magis kostum baru itu langsung terlihat saat menang 4-1 atas Wembley pada pembukaan musim baru.

Selama lebih dari dua dekade berikutnya, logo tersebut mengiringi kejayaan Liverpool di Inggris maupun dunia. Perubahan kecil terjadi hanya pada saat warna berubah dari putih ke kuning pada 1976-77, dan kembali saat musim 1985-86.

Pengecualian terjadi pada final Piala Champions 1977. Pada laga tersebut, Liver Bird dikelilingi dua lingkaran ganda.

Musim panas 1987, terjadi perubahan besar di Anfield. Ian Rush hengkang ke Juventus. John Barnes dan Peter Beardsley didatangkan untuk menggantikan Rush. Pada periode itu, logo klub mulai dipakai untuk keperluan administrasi dan komersial. Tulisan L.F.C di bawah logo juga sudah tidak ada.

Perubahan kembali terjadi pada 1992 itu memperingati 100 tahun berdirinya klub. Liver Bird lantas dibuat lebih kecil.

Musim panas 2012, logo kembali berganti. Liver Bird berwarna kuning berdiri tunggal. Sama seperti dengan logo yang dipakai Liverpool pada masa jaya periode 1970-1980an.

Source: http://indonesia.liverpoolfc.com/history/lfc-crest
Read more »»  

Rabu, 26 November 2014

Evolusi Seragam Merah Liverpool FC

50 tahun yang lalu Liverpool mengenakan seragam berwarna merah-merah untuk pertama kalinya dalam sejarah klub dan galeri foto kami menunjukkan bagaimana seragam kandang yang ikonik telah berubah sejak November 1965.
Berikut galeri-nya dari tahun 1965 hingga saat ini tahun 2014 :


Tahun 1965

Tahun 1969

Tahun 1974

Tahun 1977

Tahun 1980

Tahun 1983

Tahun 1986

Tahun 1988

Tahun 1989

Tahun 1991

Tahun 1993

Tahun 1994

Tahun 1996

Tahun 1997

Tahun 1999

Tahun 2001

Tahun 2003

Tahun 2005

Tahun 2007

Tahun 2009

Tahun 2011

Tahun 2012

Tahun 2013

Tahun 2014
Read more »»  

Selasa, 22 Juli 2014

Steven Gerrard Pensiun dari Timnas Inggris



Stevie-G saat terakhir membela Timnas Inggris, 25 Juni 2014


Source: http://indonesia.liverpoolfc.com/news/latest-news/rekam-jejak-gerrard-di-timnas
Read more »»  

Selasa, 17 Juni 2014

Jadwal Piala Dunia Brasil 2014

Bagi sobat sobit yang membutuhkan jadwal pertandingan sepakbola Piala Dunia Brasil 2014, lengkap dengan jam tayang Waktu Indonesia Tengah (WITA), dan dikemas dalam file MS-excel, sehingga bisa dilakukan pengisian hasil pertandingan.

Berikut Penampakannya:

Yang berminat, langsung sedot >> Jadwal Piala Dunia Brasil 2014
Read more »»  

Selasa, 28 Januari 2014

Di Hadapan Anfield nan Klasik Itu


Liverpool - "This is Anfield adalah sebuah statement." Demikian ucapan Kevin, pria yang mengantarkan kami berkeliling Anfield. Dia begitu bangga dengan ucapan yang dicetuskan oleh Bill Shankly tersebut.

"Besok kedua kapten akan berdiri di bawah logo ini sebelum memasuki lapangan. Bill Shankly menaruhnya karena kebanyakan stadion di Inggris menulis 'Welcome to...' atau 'Home of...'. Bill Shankly ingin sesuatu yang berbeda. Sesuatu yang bisa mengintimidasi lawan," ucap Kevin.

Pria berkepala plontos itu lantas melanjutkan cerita mengenai The Kop, tribun termahsyur di Anfield itu, dan bagaimana ramainya tribun tersebut di tiap-tiap laga. Apalagi pekan ini Liverpool akan menjamu rival sekota, Everton.

"Ini adalah pengabadian untuk mereka, suporter-suporter yang sangat passionate terhadap Liverpool. Mereka tidak akan berhenti bernyanyi sepanjang pertandingan."

"Saya sendiri cukup beruntung bisa menyaksikan banyak pertandingan. Masing-masing pertandingan punya kenangan tersendiri buat saya soal The Kop," ucapnya.

Anfield mungkin hanya berjarak "sepelemparan batu" dengan Goodison Park. Hanya dipisahkan oleh Stanley Park. Keduanya bahkan punya sejarah yang sama --sama-sama pernah berumah di Anfield. Oleh karenanya, derby Merseyside dianggap sebagai salah satu yang paling intens di tanah Inggris.

Ketika saya dan rombongan Garuda Indonesia tiba di Liverpool pada Minggu malam (26/1), reklame mengenai pertandingan itu sudah terpajang di beberapa sudut kota. Stasiun televisi yang menyiarkan juga mengambil untung dengan memasang iklan bertuliskan "More Than 3 Points at Stake."

Ya, jarak poin Liverpool dan Everton di klasemen memang sedekat jarak Anfield ke Goodison Park, tapi ada lebih dari tiga poin dipertaruhkan di sini. Yang satu tidak ingin menanggung malu di hadapan yang lainnya.

"Saya cukup yakin Daniel Sturridge dan Luis Suarez sudah cukup untuk menjadi amunisi kami di lini depan. Sekarang tinggal tergantung kami, para bek, untuk menjaga pertahanan sebaik mungkin," ujar Kolo Toure di koran lokal.

Toure cukup beruntung sudah pernah mencicipi berbagai derby di Inggris, mulai dari derby London Utara hingga Manchester. Namun, dia belum pernah sekalipun bermain di derby Merseyside. Abang dari Yaya Toure ini pun agak penasaran seperti apa rasanya bermain di derby tersebut --meski dia sudah banyak mendengar cerita mengenainya.

Keluarga-keluarga di Liverpool akan terbiasa datang berbondong-bondong ke stadion untuk menyaksikan si merah dan si biru saling baku hantam. Si ayah adalah penggemar Liverpool, sementara mungkin si istri atau anaknya adalah pendukung Evrerton.

Jangan heran jika Anda mendengar bahwa Jamie Carragher dan Michael Owen adalah penggemar Everton semasa kecil, karena memang demikianlah keadaan di sini. Derby Merseyside menghadirkan rivalitas yang begitu tegang, tetapi juga begitu intim.

Pada era 90-an hingga awal 2000-an, Merseyside juga dikenal sebagai salah satu tempat lahirnya bakat-bakat menjanjikan. Dulu Everton punya Danny Cadamarteri, Francis Jeffers, ataupun James Vaughan yang sempat digadang-gadang jadi masa depan klub mereka. Namun, pada akhirnya, nama-nama itu tenggelam di hadapan pemuda-pemuda Anfield seperti Owen, Carragher, Jamie Redknapp, hingga pemuda yang dulu mengenakan kostum nomor 17 bernama Steven Gerrard.

Dalam kelanjutannya, Everton akhirnya menghasilkan pemuda-pemuda hebat lainnya: Wayne Rooney, Jack Rodwell, hingga kini Ross Barkley. Bahkan Barkley, yang kini berusia 20 tahun, sudah digadang-gadang menjadi penggawa lini tengah tim nasional Inggris di masa depan.

Begitu banyak kemiripan antara keduanya yang tidak terbantahkan. Liverpool dan Everton adalah dua saudara kandung yang seperti ingin berebut perhatan dari orang tua mereka. Si kakak yang seperti terpinggirkan karena keberadaan si adik akan selalu mengincar kesempatan untuk mengklaim perhatian itu.

Salah satu iklan bahkan mengklaim sebagai derby paling sukses di tanah Inggris. Ukurannya jelas, Liverpool adalah pengoleksi 18 gelar juara liga, sementara Everton 9. The Toffees adalah klub keempat dalam urusan pengoleksi gelar juara Liga Inggris terbanyak --di bawah Manchester United, Liverpool, dan Arsenal.

Jika urusannya adalah trofi liga, derby Merseyside berbeda dengan rivalitas Arsenal-Tottenham Hotspur yang begitu timpang, hingga United-Manchester City. Baik Liverpool dan Everton boleh bertepuk bangga karena mereka punya sejarah dan tradisi panjang soal trofi itu.

"Lihat saja besok. Atmosfernya akan beda," ujar Kevin lagi.

Di hadapan Anfield yang klasik itu, kedua saudara itu akan bertemu.


Akun twitter penulis: @rossifinza dari @detiksport
Source: http://sport.detik.com/sepakbola/read/2014/01/28/140553/2480600/72/1/di-hadapan-anfield-nan-klasik-itu



Read more »»  

Rabu, 22 Januari 2014

One-Man Team (Bagian 1)

Salahkah Membangun Tim dengan Bertumpu Pada Satu Pemain?

 

Katanya, Liverpool tidak bisa apa-apa tanpa Luis Suarez. Lalu kenapa? Membangun tim dengan fokus permainan pada satu bintang terbukti jadi salah satu jalur menuju kesuksesan.

Mari layangkan ingatan kita kembali ke musim lalu, pada kala Gareth Bale sedang jaya-jayanya bersama Tottenham Hotspur. Banyak yang berkata bahwa tanpa Bale, Spurs hanyalah sebuah tim papan tengah. Bale terlalu bagus untuk mereka. Musim lalu, bisa dibilang bahwa Spurs berlabel "one-man team". Sebuah atribut yang bisa berarti positif maupun negatif.

Permainan Bale begitu mencolok musim lalu. Namun, apakah ini merupakan sesuatu yang buruk?

Well, sejujurnya Spurs tanpa Bale seperti macan tak bergigi. Hal yang sama juga berlaku untuk Luis Suarez di Liverpool, Barcelona tanpa Lionel Messi, Real Madrid tanpa Cristiano Ronaldo, dan tim-tim berlabel one-man team lainnya sepanjang sejarah permainan ini berlangsung.

Pertanyaannya adalah, bolehkah tim-tim ini terlalu tergantung pada satu pemain saja untuk mencetak gol, assist, dan segala sesuatu yang lain yang berbau kebrilianan dalam menyerang? Jika memiliki senjata yang begitu tajam, kenapa tidak boleh memaksimalkan potensi sang senjata hingga ke titik tertingginya?

Menelisik Definisi One-Man Team

Sebelum berbicara banyak, mari bertanya. Apakah definisi dari one-man team? Percaya atau tidak, "one-man" tersebut bisa berarti banyak. Secara umum, pada banyak kasus, artinya adalah tim yang bergantung pada pemain yang paling bertalenta. Arti kata "paling" ini adalah "sangat jauh di atas rekan-rekannya".

Satu hal lagi yang tidak bisa dipungkiri adalah si pemain bintang pada one-man team biasanya beroperasi pada area attacking third lapangan. Maknanya, ia adalah seorang pemain depan, atau pemain tengah yang gemar menyerang.

Contoh-contohnya seperti: Argentina dengan Maradona-nya pada Piala Dunia Meksiko 1986, Southampton dengan Matt Le Tissier pada tahun 1990-an, dan juga Blackburn Rovers dengan Alan Shearer kala menjuarai Liga Inggris 1994-1995.

Tim-tim di atas adalah tim yang dihuni oleh pesepakbola dengan talenta penyerangan yang luar biasa. Sementara pada kasus Barcelona (Messi) dan Real Madrid (Ronaldo), kedua tim ini memiliki mega-bintang yang juga bahu-membahu bersama pemain-pemain lainnya yang memang kelas dunia.

Dua Tipe One-Man Team

Ada beberapa perbedaan dari one-man team, yang bisa dilihat dari cara permainan sebuah tim. Secara umum saya akan membagi ke dalam dua tipe. Namun, masing-masing memiliki variasinya sendiri-sendiri. 

One-Man Team tipe pertama adalah yang paling sederhana: tim yang membangun taktik dan strategi untuk memaksimalkan potensi satu pemain utama. Dari sinilah penggunaan istilah "one-man team" muncul.

Namun, meski terdengar sebagai strategi yang tidak bisa diandalkan, sebenarnya one-man team sudah jadi praktik yang lazim. "Sudah menjadi hal yang wajar untuk membangun sebuah tim di sekitar satu pemain yang paling menonjol", ujar Robbie Mustoe, mantan gelandang Middlesbrough yang sekarang menjadi seorang analis sepakbola.

Mari kembali ke ilustrasi Gareth Bale di Spurs musim lalu. Menurut Mustoe, Andre Villas-Boas mengerti bahwa dengan kemampuan Bale, pasti pemain ini dibutuhkan untuk berada pada area tengah lapangan. Akibatnya, AVB akan memastikan pemain-pemain lainnya untuk menutup ruang di sisi yang Bale tinggalkan.

"Kredit untuk Bale yang bisa memerankannya, dan juga untuk AVB yang menyadari pentingnya strategi tersebut untuk tim," tambah Mustoe.

Contoh lainnya adalah Messi pada musim 2010-2011, ketika ia mulai banyak mencetak gol. Pada musim sebelumnya Messi hanya mencetak 17 gol untuk Barcelona. Tapi, dengan skema permainan Barca, sampai sekarang angka gol Messi sudah lebih dari 200 gol (223 gol tepatnya, dan masih terus bertambah sampai saya menulis artikel ini, dan bertambah banyak lagi sampai Anda membaca artikel ini).

One-man team tipe kedua adalah tim yang biasanya tidak memiliki banyak cing-cong pada taktik. Pada tim seperti ini, ada kecenderungan pemain tampil menjadi "jimat". Salah satu contohnya adalah pemain seperti Michael Ballack, yang (hampir) bisa dibilang seorang diri saja berhasil membawa Jerman ke final Piala Dunia 2002.

Waktu itu, Jerman ke final dengan hanya mengandalkan dua pemain bintang. Bisa dikatakan, kiper Oliver Kahn adalah satu-satunya rekan setimnas Ballack yang bisa disejajarkan sebagai pemain kelas dunia.

Ballack adalah "jimat" Rudi Voeller. Pelatih Jerman ini tidak merancang permainan Ballack, tapi Ballack sudah dengan sendirinya bisa merancang permainan rekan-rekannya. Ballack tampil sebagai seorang gelandang perusak, perancang, dan pencetak gol dari lapangan tengah.

Lalu ada Diego Maradona pada kategori yang sama namun pada tingkat yang lebih "dewa". Ia membayar lunas kepercayaan Carlos Billardo untuk membangun skuad pemenang Piala Dunia 1986, Argentina, dengan kepemimpinan, kesaktian, dan juga kenakalannya.

 

Namun, bahkan salah satu pemain terbesar sepanjang masa pun menyadari bahwa ia bukanlah apa-apa tanpa 10 pemain lainnya.

Maradona tidak sendirian dalam berpikir bahwa satu orang tidak bisa memenangi pertandingan seorang diri. "Kamu tidak bisa membiarkan tim kamu berpikir bahwa mereka adalah one-man team", kata Dave Merrington, sang manajer Southampton pada era kejayaan Matt Le Tissier. "Kamu harus memastikan mereka menghormati peran-peran mereka dan juga rekan-rekan setimnya," kata Merrington.

One-man team mungkin akan berhasil. Tapi tidak dalam jangka panjang, jika si pemain bintang percaya dia melakukan itu semua sendiri. Dua contoh terbaik dari sang pemain egois adalah Romario dan Robin Friday. Saat bermain untuk PSV Eindhoven pada 1988, Romario merupakan pemain brilian yang bermain untuk dirinya sendiri dan berlatih untuk dirinya sendiri. Tidak heran kemudian ia malah dibenci rekan-rekan setimnya. 

Cerita serupa juga terjadi pada Robin Friday pada tahun 1970-an. Digadang-gadang sebagai bintang Inggris, ia malah menghabiskan karirnya yang singkat bersama Reading di divisi tiga, karena dinilai terlalu egois.

Buah Simalakama Taktik One-Man Team

Salah satu peran manajer adalah sebagai penyeimbang. Adalah manajer yang harus memutuskan bahwa satu pemain akan menjadi titik fokus tim. Ia harus mempertimbangkan apakah "mengasingkan" salah satu pemain dari rekan-rekan lainnya adalah risiko yang layak diambil.

Banyak yang mengatakan seorang manajer harus menjadi seorang ahli taktik dan juga ahli psikologi. Sayangnya, hal ini akan sangat sulit berlaku bagi manajer yang mencoba membangun timnya di sekitar satu orang pemain saja.

Phil Brown mengaku kesulitan untuk membangun one-man team. Ini terjadi pada saat ia merancang formasi menyerang 4-3-1-2 Hull City pada 2009. Membuat fokus timnya pada gelandang magis Brasil, Geovanni, Brown sebenarnya sukses untuk membuat timnya berhasil bertahan mengarungi ketatnya Premier League Inggris.

Namun, Phil Brown malah berkata bahwa sebuah tim tidak dapat menang dengan mengandalkan individual, meski ia memiliki seorang pemain yang bisa melakukannya. Ini karena ia dihadapkan pada situasi yang serba salah.

Sebagai contoh adalah yang terjadi pada Matt Le Tissier ketika Alan Ball mencoba membangun tim Southampton di sekitar pemain jenius tersebut. "Ball menyuruh saya untuk selalu berada di tengah lapangan. Kemudian ia berkata kepada pemain lainnya bahwa sayalah pemain yang paling bagus, dan sayalah peluang terbaik mereka untuk keluar dari masalah. Jadi semuanya selalu mengoper bola kepada saya," ujar Le Tissier.

Dengan strategi itu, pemain yang terkenal dengan julukan Le God di pantai Selatan Britania itu mencetak 25 gol untuk menghindarkan The Saints dari degradasi pada musim 1994-1995. Ia juga mencetak 20 gol lagi pada musim berikutnya untuk membawa Southampton ke posisi 10 klasemen Liga Inggris.

"Selama saya bermain baik dan kami tidak kalah, tidak ada masalah. Tapi pada beberapa kesempatan ketika saya tidak bermain baik, saya merasakan ada sedikit kebencian dari rekan-rekan setim."

Ketika pemain-pemain istimewa ini berhasil bermain konsisten dan memenangkan pertandingan, pemain-pemain lainnya mungkin akan sedikit longgar kepada si pemain bintang pada saat pertandingan. Namun ketika mereka bermain buruk, semuanya kembali lagi kepada kultur tim. Pemain-pemain senior serta manajer memiliki peran jadi contoh untuk rekan-rekannya.

Sebagai manajer, ia harus bisa mengenal si pemain jenius ini. Manajer juga harus memiliki beberapa pemain yang bertipe krusial, sehingga terdapat keseimbangan yang baik: si pemain jenius ini akan berperilaku baik di dalam maupun di luar lapangan, juga anggota tim lain akan lebih mudah menerima peran si jenius sebagi fokus tim.

Ego bukanlah hal yang mudah untuk ditangani. "Setiap pemain butuh merasa untuk dibutuhkan, dicintai, dan dihargai. Itu berlaku tidak hanya untuk pemain-pemain yang istimewa saja," ujar Tom Bates, salah seorang psikolog olahraga.

Bates menggunakan contoh ketika Pep Guardiola mengizinkan Lionel Messi untuk bermain pada Olimpiade 2008 untuk Argentina. Pep, yang berhasil memenangi medali emas Olimpiade pada tahun 1992, bisa melihat hal ini melalui perspektif yang positif.

Hal ini terjadi jauh sebelum Messi menjadi mesin gol Barcelona. Kala itu Pep bisa berkata kepada Messi, "Pergi dan menangkanlah medali emas tersebut, tapi ketika kamu kembali ke sini, cetaklah banyak gol untuk kita," dan Messi melakukan semuanya. Itu adalah cara Guardiola untuk mengatakan, "Saya menghargaimu".

*akun Twitter penulis: @dexglenniza

Source: http://sport.detik.com/aboutthegame/read/2014/01/20/165934/2472554/1482/4/salahkah-membangun-tim-dengan-bertumpu-pada-satu-pemain


Read more »»  

Kamis, 26 Desember 2013

Gaya Bermain Tim Sepakbola: Antara Idealisme, Realitas dan Mitos


"Sederhana. Ia tidak memainkan gaya Tottenham (Tottenham way),"kata seorang penggemar klub ini dengan penuh percaya diri, dalam sebuah diskusi radio tentang pemecetan Andre Villas-Boas beberapa waktu lalu.

Gaya Tottenham?

"Menyerang, operan bola yang cepat, keterampilan tinggi, imajinatif, inovatif dan seterusnya dan seterusnya. Pokoknya permainan yang menawan dan menghibur," begitu penjelasan pendukung Tottenham kalau ditanya.

Tetapi tunggu dulu. Bukankah gaya permainan seperti itu pula yang diklaim oleh pendukung Arsenal, Liverpool, Manchester United, Chelsea, dan sekian klub besar dan kecil Inggris lainnya.

Anda ingat ketika pendukung West Ham menyatakan penolakan mereka dengan penunjukan Sam Allardyce sebagai manajer? "Allardyce dengan gaya asal tendang ke depan akan merusak gaya West Ham (West Ham way),’" kata penolaknya. West Ham way yang dimaksud tentu saja sama dengan Tottenham way di atas.

Bahkan tahun lalu pemecatan Tony Pulis oleh Stoke City juga dikait-kaitkan dengan hal ini. Pulis sering diejek penggemar bola lantaran menampilkan gaya bermain yang lebih mirip rugby --tabrak sana-sini-- ketimbang bermain bola. "Kami menginginkan pelatih yang bisa menampilkan gaya Stoke yang sesungguhnya," ujar penggemar Stoke yang mendukung pemecatan Pulis.

Gaya Stoke yang sesungguhnya? Anda mungkin boleh bertanya dengan sinis soal itu.

Tetapi janganlah mempertanyakan klaim dari Stoke ataupun klub-klub semenjana lain bahkan gurem, semacam yang diklaim Tottenhami itu. Pertanyaan yang lebih mendasar adalah mengapa begitu banyak (pendukung) klub yang melakukan klaim seperti ini?

Sama seperti juga kehidupan kelompok masyarakat lain, masyarakat bola sebenarnya selalu bergerak dalam tiga dataran: ideal, realitas-sejarah dan mitos. Tiga kaki yang membangun klaim hampir semua klub bola itu.

Kalau anda bertanya pada masyarakat, seperti apa tatanan sosial yang ideal itu, maka anda akan mendapat sekian macam jawaban yang berbeda, tergantung latar belakang sosial, politik dan keagamaan mereka. Tetapi tanyakan pada masyarakat bola permainan seperti apa yang ideal, jawabannya akan seragam seperti yang dikatakan pendukung Tottenham itu. Kecuali kalau mereka berbohong, tentu saja.




Idealisasi itu berakar pada kesadaran sepenuhnya bahwa yang paling mendasar dari permainan sepakbola, setelah dipangkas atribut-atribut lainnya, adalah permainan untuk hiburan. Dan tidak ada hiburan yang lebih menyenangkan dalam sepakbola selain gaya permainan yang mempertontonkan serangan, keterampilan yang tinggi, imajinasi dan inovasi. Itu puncak.

Beruntunglah bahwa idealisme itu bersifat nilai (dan karenanya abstrak). Ia bukan layaknya sebuah penemuan (benda) di bidang teknologi yang dipatenkan. Tidak ada pembatasan kepemilikan. Ia juga lebih mirip puisi yang kaya kalimat bersayap dan simbolik, yang telah lepas dari tangan penulisnya. Bisa ditafsir dan dimaknai sendiri oleh masing-masing pembacanya.

Itulah sebab begitu banyak klub mengklaim gaya ideal permainan sepakbola sebagai milik mereka. Karena gaya tersebut adalah bayangan permainan milik masyarakat sepakbola keseluruhan. Bukan ekslusif milik satu dua kelompok.

Kalaulah ada satu klub mengatakan filosofi klub mereka selalu menampilkan permainan yang ideal, maka kita sebenarnya sedang berbicara persoalan aspirasi. Di dataran realitas tidaklah selalu seperti itu. Ada konteks pertandingan, faktor pelatih, sejarah, dan tentu saja --seperti masyarakat pada umumnya-- amnesia selektif.

Kita berbicara saja tentang beberapa contoh, klub-klub yang saat ini dianggap besar dan juga rentang waktu yang jangan terlalu jauh.

Ambil contoh Arsenal. Para pendukungnya sekarang boleh mengatakan the Arsenal way, filosofi permainan bola sajian gaya menyerang indah polesan Arsene Wenger. Namun sedikit mundur saja ke belakang kita tahu bahwa Arsenal tidak selalu seperti itu.

"Boring boring Arsenal – Arsenal yang menjemukan" adalah nyanyian ejekan di pertengahan tahun 80an karena seringnya mereka menang tipis. Mencetak satu gol lalu tutup warung, mengandalkan pertahanan yang solid. Ejekan itu baru berakhir ketika Wenger masuk dan mengubah gaya permainan mereka. Bahkan, setahun setelah Wenger masuk, nyanyian ejekan itu masih sering terdengar di Highbury.

Liverpol menjadi raja domestik dan Eropa sepanjang 70an dan 80an karena mampu mengawinkan permainan kick and rush gaya Inggris dan bola-bola pendek khas Eropa daratan dengan cantik. The Liverpool way.

Tetapi yang dilupakan orang adalah pada saat bersamaan Liverpool sering menampilkan permainan yang sangat membosankan. "Kami menguasai seni safety first ke kiper," kata Alan Hansen, pilar jantung pertahanan Liverpool di masa jaya klub itu, suatu ketika.


Sangat negatif. Anda pasti ingat bahwa pada masa itu peraturan memperbolehkan kiper menangkap bola dari pemain mereka sendiri. Saat itu, Liverpool adalah rajanya untuk yang satu ini.

Manchester United way? "Cetak gol sebanyak mungkin gol ke gawang kami, kami akan mencetak lebih banyak lagi," kata pendukung klub ini seolah mewakili klub menjelaskan filosofi permainan mereka. Seolah menjanjikan permainan yang selalu menyerang, menarik dan terbuka.

Tetapi Manchester United tak selalu seperti itu. Salah satu kehebatan klub ini adalah bermain buruk tetapi tetap bisa menang dengan skor tipis. Dan itu sering.

Chelsea memainkan sepakboa yang lebih bagus ketika masih ditangani Glen Hoddle, Ruud Gullit maupun Gianluca Vialli. Para pendukung awalnya mengeluh ketika Jose Mourinho datang dan menyebutnya tak paham dengan the Chelsea way. Tetapi ketika Chelsea mulai mendominasi sepakbola Inggris, pendukungnya lupa, bungkam dan kemudian bergembira.


Anda tahu, amnesia selektif adalah kekhasan kita umat manusia. Mengingat dan menyimpan hanya yang kita mau, lalu mendorong yang tidak kita inginkan ke pinggir ruang ingatan. Dan ketika ranah ideal dan realitas bertemu menjadi satu, para penggemar bola melakukan proses seleksi yang sama. Sehingga yang mereka ingat hanyalah hal-hal yang mereka anggap cocok dengan permainan ideal sepakbola.

Itu yang terjadi di Liverpool, Manchester United, Chelsea, Arsenal, West Ham, Stoke dan sekian banyak klub lainnya.

Tentu saja dengan sejarah bola yang sudah begitu panjang di Inggris ini, setiap klub mempunyai satu masa, sekian pertandingan, sekian pelatih yang menampilkan permainan ideal itu. Bahwa ada juga yang kebalikannya, tidak masalah. Seperti saya katakan: yang berkebalikan, yang tidak sesuai dengan nilai-nilai ideal akan didorong untuk dibuang dan dilupakan dan dikatakan bukan gaya kami, tidak sesuai dengan filosofi kami dan lain sebagainya.

Di sinilah kemudian mitos mempunyai celah untuk masuk, menjembatani realitas dan yang ideal. Mitos, seperti kita tahu, pengertian sederhananya adalah dongeng untuk menjelaskan realitas yang dihadapi manusia terkait dengan "sesuatu" yang lebih besar (supra).

Ia, mitos dalam konteks klub sepakbola, adalah sebuah upaya untuk mendudukkan gaya permainan klub dalam atmosfer ideal permainan sepakbola. Amnesia selektif adalah prosesnya: upaya untuk melakukan eksklusi dan inklusi. Datanya tersedia di perjalanan sejarah klub.

Karenanya ketika orang mengatakan ......... way (silakan isi titik itu sendiri dengan klub yang mana saja), ia sedang mendongeng-mencoba menjembatani realita gaya bermain klubnya dan yang ideal-sepakbola yang seharusnya sebagai sebuah hiburan.

London, 20 Desember 2013.

Source:
http://sport.detik.com/aboutthegame/read/2013/12/23/114200/2449329/1489/4/gaya-bermain-tim-sepakbola-antara-idealisme-realitas-dan-mitos
Read more »»  

Minggu, 10 November 2013

Taktik, Strategi dan Formasi dalam Sepakbola


Taktik adalah suatu siasat atau akal yang dirancang dan akan dilaksanakan dalam permainan oleh perorangan, kelompok, maupun tim untuk memenangkan suatu pertandingan secara sportif.

Pada hakikatnya, penggunaan taktik dalam sepakbola adalah suatu usaha mengembangkan kemampuan berpikir, kreativitas, serta improvisasi untuk menentukan altenatif terbaik memecahkan masalah yang dihadapi dalam suatu pertandingan secara efektif, efesien, dan produktif dalam rangka memperoleh hasil yang maksimal yaitu sebuah kemenangan dalam pertandingan.

Strategi adalah suatu siasat atau akal yang dirancang sebelum pertandingan berlangsung dan digunakan oleh pemain maupun pelatih untuk memenangkan pertandingan yang dilaksanakan secara sportif dan sehat.

Strategi mengacu pada gerakan-gerakan yang dibutuhkan dalam pertandingan. Kedudukan strategi dalam olahraga memiliki makna sebagai pendukung aspek taktik olahraga. Dengan demikian, antara taktik dan strategi memiliki perbedaan, akan tetapi dalam pelaksanaannya keduanya saling berkaitan serta mendukung untukmencapai tujuan yang sama, yaitu memenangkan pertandingan.

Taktik dalam aplikasinya secara garis besar dapat dikelompokkan sebagai berikut:

1. Taktik Penyerangan.
Taktik penyerangan diartikan sebagai suatu siasat yang dijalankan oleh perorongan, kelompok,maupun tim terhadap lawan dengan tujuan memimpin dan mematahkan pertahanan dalam rangka memenangkan pertandingan secara sportif.

Taktik penyerangan dapat dibedakan menjadi:
a. Taktik mencari tempat kosong di antara pemain lawan.
b. Taktik melakukan gerakan tersusun, baik yang membawa bola maupun tidak (memanfaatkan lebar lapangan).
c. Taktik bermain ketat (jeli melihat peluang).

2. Taktik Pertahanan
Taktik pertahanan diartikan sebagai suatu siasat yang dijalankan oleh perorangan,kelompok, maupun tim terhadap lawan dengan tujuan menahan serangan lawan agar tidak mengalami kekalahan atau kelelahan dalam pertandingan.

Taktik pertahanan dapat dibedakan menjadi:
a. Man to man defence, setiap pemain membayangi satu lawan (satu lawan satu).
b. Zone defence, setiap pemain bertanggung jawab atas daerah pertahanannya.
c. Kombinasi, yaitu taktik man to man defence dan zone defence.

3. Taktik Perorangan
Taktik perorangan diartikan sebagai siasat yang dilakukan oleh seorang pemain dalam menggunakan kemampuan fisik, teknik, dan mental yang dilakukan dengan proses yang cepat untuk menghadapi masalah yang terjadi dalam suatu pertandingan.

4. Grup Taktik
Grup taktik diartikan suatu siasat yang dijalankan dua orang pemain atau lebih dalam melakukan pertahanan dan penyerangan untuk mencari kemenangan secara sportif pada suatu pertandingan.

5. Kolektif Taktik
Kolektif taktik diartikan suatu siasat yangdijalankan oleh suatu regu dalam menjalin kerja sama untuk mencari kemenangan dalam suatu pertandingan.

Cara Menentukan Taktik

Dalam menentukan taktik perlu memperhatikan hal-hal seperti berikut:
1. Apa yang bisa dilakukan pemain saat bertanding.
2. Pelatih harus mengetahui atau paham benar akan kemampuan para pemainnya sendiri dan pemain calon lawan.
3. Pemberian tugas kepada pemainnya dalam menghadapi kesebelasan calon lawan harus diuji coba dalam latihan.
4. Harus mengetahui terlebih dahulu taktik yang biasa digunakan oleh calon lawan.
5. Memperhatikan situasi penonton dan kondisi lapangan. 

Taktik dalam permainan sepakbola sangat dipengaruhi oleh dasar-dasar bermain sepakbola, antara lain sebagai berikut:

1. Teknik atau keterampilan bermain (skill) 
Bagaimanapun sederhananya taktik yang dilakukan, tidak mungkin dapat dikerjakan tanpa penguasaan teknik atau keterampilan yang baik. Artinya, teknik dasar bermain bola harus dapat dikuasai dengan baik.

2. Kondisi fisik atau kesegaran jasmani
Taktik harus di dasari dengan kondisi fisik yang baik, yaitu tentang dasar-dasar atletik, daya tahan, kekuatan, kecepatan, kelincahan. Tanpa adanya hal tersebut taktik yang diterapkan tidak akan dapat berjalan secara optimal.

3. Kecerdasan, daya ingat dan mental yang baik.
Untuk dapat menjalankan taktik secara baik pemain harus ditunjang dengan kecerdasan, daya ingat untuk berpikir cepat dalam permainan, di samping mental yang kuat untuk tidak takut terhadap terror pemain lawan maupun penonton.

4. Pemain mengerti peraturan permainan
Supaya pemain dapat melaksanakan permainan dengan baik dan sportif maka setiap pemain harus mengerti dan menguasai peraturan permainan. 

Formasi dalam bermain sepakbola

Formasi (sistem) dalam permainan sepakbola yang ditetapkan pada peratuaran sepakbola adalah cara penempatan, ruang gerak serta pembagian tugas dari setiap pemain dengan posisi yang di tempatinya. Hal tersebut berlaku baik pada saat melakukan penyerangan maupun pada waktu melaksanakan pertahanan. Dengan sistem ini, setiap pemain telah mengetahui tugas utamanya, daerah atau ruang gerak masing-masing, memahami apa yang harus dilakukan pada saat menyerang atau bertahan dan kemana harus bergerak.

Dengan formasi, maka pola penyerangan dan pertahanan akan terkoordinir dengan rapi dan kerja sama akan jauh lebih terarah. Setiap formasi mempunyai ciri-ciri dan menuntut kualitas atau tingkat kemampuan pemain yang berbeda-beda. Bahkan setiap posisi pemain dalam sistem tertentu memerlukan kualitas pemain yang tidak sama.

Beberapa contoh formasi yang biasa dilakukan dalam permainan sepakbola:
1. 3 – 5 – 2 : 3 pemain belakang, 5 pemain tengah, dan 2 pemain depan. 
2. 4 – 3 – 3 : 4 pemain belakang, 3 pemain tengah, dan 3 pemain depan. 
3. 4 – 4 – 2 : 4 pemain belakang, 4 pemain tengah, dan 2 pemain depan 
4. 4 – 5 – 1 : 4 pemain belakang, 5 pemain tengah, dan 1 pemain depan. 
5. 4 – 2 – 4 : 4 pemain belakang, 2 pemain tengah, dan 4 pemain penyerang. 
6. 4 – 2 – 3 - 1 : 4 pemain belakang, 2 pemain tengah, 3 pemain gelandang serang dan 1 penyerang. 
7. 4 – 2 – 1 - 3 : 4 pemain belakang, 2 pemain tengah, 1 playmaker dan 3 penyerang. 
8. 3 – 4 – 1 - 2 : 3 pemain belakang, 4 pemain tengah, 1 playmaker dan 2 penyerang. 
9. 3 – 4 – 2 - 1 : 3 pemain belakang, 4 pemain tengah, 2 penyerang lubang dan 1 penyerang tunggal. 
10. Dan seterusnya.

Demikian yang bisa kami bahas tentang taktik, strategi dan formasi dalam bermain sepakbola. Semoga bermanfaat.

Sumber:
Akun twitter penulis :@taufikjursal dari @ssbindonesia  - detikSport

Read more »»  

Sabtu, 10 Agustus 2013

Hak Siar Liga Inggris Musim 2013-2014


Stasiun TV mana saja yang menyiarkan Liga Inggris musim ini? Siapa pemegang hak siar EPL 2013-14? SCTV, Indosiar, NexMedia, Orange TV, First Media, Big TV? Berikut adalah informasi selengkapnya tentang hak siar English Premier League.

Distributor Hak Siar EPL
Sebelumnya, perkenalkan. Agen ini bernama MP & Silva, mereka adalah perusahaaan yang pekerjaannya adalah mengelola dan mendistribusikan hak siar berbagai event olahraga.

MP & Silva menjalin kontrak dengan English Premier League untuk menjadi pengelola hak siar Liga Inggris, mencakup total 380 siaran pertandingan Liga Inggris setiap musimnya, dari 2013-14 hingga 2015-16.

Deal kontrak meliputi seluruh hak atas EPL untuk tayangan TV, mobile, dan digital.

MP & Silva menjadi distributor eksklusif untuk siaran pertandingan English Premier League di 49 wilayah. Lebih detilnya, 2 wilayah di Eropa, 23 di Timur Tengah dan Afrika, serta 24 wilayah di Asia Pasifik.

Lebih detilnya lagi, wilayah-wilayah tersebut adalah: Belanda, Mauritania, Aljazair, Mesir, Libia, Maroko, Sudan, Sudan Selatan, Tunisia, Bahrain, Iran, Irak, Jordania, Kuwait, Lebanon, Oman, Qatar, Saudi Arabia, Siria, Uni Emirat Arab, Yaman, Chad, Djibouti, Somalia, Selandia Baru, Fiji, Kepulauan Cook, Kepulauan Kiribati, Kepulauan Marshall, Mikronesia, Nauru, Niue, Mariana Utara, Palau, Samoa, Kepulauan Solomon, Tokelau, Tonga, Tuvalu, Vanuatu, French Polynesia, Kaledonia Baru, Kepulauan Wallis & Futuna, Amerika Samoa, Guam & Papua Nugini, Timor Leste, serta terakhir adalah negeri kita tercinta... Indonesia.

Sekedar catatan, cakupan wilayah di atas punya potensi 142 juta pelanggan yang punya kesanggupan menonton siaran TV EPL setiap minggunya.

Hak Siar Liga Inggris di Indonesia
Harga hak siar Liga Inggris telah melonjak tajam. Jika tahun 2010 lalu MNC Group bisa membelinya dengan harga 39 juta USD, kini MP & Silva menawarkan angka dua kali lipat lebih banyak, 90 juta USD untuk durasi kontrak tiga musim.

Mahal, tapi masih laku. Siapa yang akhirnya mendapatkan lisensi hak siar dan menyiarkan Liga Inggris untuk paket kontrak 2013-2016? Ada tiga nama besar yang muncul: EMTEK Group, Orange TV, dan First Media. Mereka membaginya ke jaringan televisi masing-masing, dan inilah informasi selengkapnya...

1. EMTEK Group
PT. Elang Mahkota Teknologi (EMTEK) mendapatkan hak siar EPL dan mengerahkan tiga stasiun televisi yang dimilikinya untuk menayangkan Liga Inggris 2013-2016: Nex Media (berbayar), serta SCTV dan Indosiar (free to air/teresterial). Namun, masing-masing memiliki jatah siaran yang tidak sama.

# NexMedia
Hak siar EPL yang dimiliki NexMedia adalah paket Platinum, merupakan paket yang terlengkap dan menyiarkan 380 pertandingan tiap musim secara live.

Untuk mensupport program Barclays Premier League, NexMedia meluncurkan paket NexSports Platinum dengan biaya Rp 90.000/bulan, yang menghadirkan tiga channel khusus olahraga: beIN SPORT 1, beIN SPORT 2, dan beIN SPORT 3 Premier League. Selain tayangan Liga Inggris, channel-channel tersebut juga menayangkan Serie A Italia, Ligue 1 Prancis, Major League Soccer (MLS), Liga Brasil, Piala FA, Coppa Italia, serta kualifikasi FIFA WORLD CUP 2014 tim papan atas Amerika Latin dan Eropa.

Pelanggan bisa langsung berlangganan paket NexSports Platinum tanpa harus berlangganan paket lainnya. Untuk berlangganan Nexmedia, wilayahnya hanya terbatas pada Jabodetabek.

# SCTV dan Indosiar
Sebagai televisi yang bisa diakses gratis (teresterial), sayangnya SCTV dan Indosiar hanya memiliki hak siar EPL paket Silver. Jatah pertandingan untuk paket silver adalah 76 laga dalam semusim. Artinya, hanya ada dua pertandingan yang disiarkan setiap pekan.
Indosiar dijadwalkan akan menyiarkan pertandingan hari Sabtu pukul 21.30 WIB.
sedangkan SCTV untuk pertandingan hari Minggu pukul 22.30 WIB.
Selain itu, Paket Silver juga dibatasi hanya menayangkan pertandingan kelas menengah. Jadi bisa dipastikan bahwa Arsenal, Chelsea, Liverpool, dan duo Manchester tidak akan selalu hadir tiap pekan di televisi tak berbayar.

2. Orange TV
Sama seperti Nexmedia, Orange TV juga memiliki hak siar Liga Inggris untuk Paket Platinum selama 2013-2016. Artinya, akan ada 380 pertandingan per musim, atau 10 pertandingan per pekan yang akan ditayangkan. Tentu saja termasuk pertandingan klub-klub besar dan super big match.

Orange TV memasukkan siaran langsung Liga Inggris ke dalam paket Sporty, dengan biaya Rp 99.000/bulan. Selain EPL, dalam paket ini juga ada siaran langsung pertandingan Liga Italia, Liga Perancis, Liga Spanyol, Npower Championship, FA Cup, Capital One Cup, Coppa Italia, Coupe de la Ligue, Major League Soccer, Brazilian Football Championship, International Football, Champions League, Europa League, hingga ISL (Indonesia Super League).

Jangkauan Orange TV telah mencakup cukup banyak area di Sumatra, Jawa, Bali, Kalimantan, dan Sulawesi. Untuk berlangganan Orange TV, pembayarannya dilakukan dengan sistem prabayar, dimana pelanggan bisa mengisi ulang ”pulsa langganan” melalui ATM atau agen terdekat.

3. First Media
PT First Media Tbk memiliki hak siar Premierleague Paket Gold, yang memiliki jatah 4 pertandingan setiap pekan, dan akan ditayangkan oleh dua stasiun televisi berbayar: Big TV (satelit) dan First Media (kabel).

Meskipun hanya memegang hak siar Paket Gold, tidak selengkap Paket Platinum, Big TV menawarkan keunggulan dalam hal kualitas, dimana tayangan Liga Inggris akan ditampilkan dalam kualitas High Defenition (HD). Selain itu, Big TV dan First media mengklaim sebagai televisi berbayar yang murah karena target pasarnya adalah untuk pelanggan kelas menengah.

Overview: Solusi?
Jadi, siaran langsung Liga Primer Inggris yang lengkap hanya bisa disaksikan melalui televisi berbayar. Jika sebelumnya penggemar sepakbola Indonesia begitu dimanjakan, mulai 2013 tontonan surga sepakbola mulai terbatas. Maka rekan-rekan sehobi dan setanah air yang sudah terlanjur jatuh cinta dengan Liga Inggris, harus berlangganan televisi berbayar jika masih ingin menonton laga yang berkelas, tidak sekedar pertandingan medioker. Sigh.

Live Streaming Liga Inggris
Bagaimana dengan streaming? Bisakah jadi solusi selain berlangganan TV berbayar? Belakangan pihak BPL mulai mempermasalahkan keberadaan streaming di internet yang dianggap ilegal. Mereka mendesak para penyedia layanan internet untuk memblokir akses streaming Liga Inggris, untuk melindungi hak-hak para pemegang lisensi siaran EPL yang sudah membayar miliaran uang.

Tapi tidak ada salahnya jika mengecek Link Streaming EPL, siapa tahu Anda sedang beruntung. Atau jika hanya ingin melihat video pertandingan, bisa coba cek halaman Highlight Liga Inggris.

Nonton Bareng Liga Inggris
Nonton bareng. Ini juga bisa menjadi solusi. Akan selalu ada basis suporter yang mengadakan event seperti ini. Jika Anda ingin nonton bareng, berikut adalah informasi akun fans club (kelompok suporter) klub-klub Liga Inggris di twitter, silakan berburu informasinya di sini:
Arsenal : @ID_ARSENAL
Chelsea : @ChelseaIndo
Man. City : @CityIndonesia @INA_Citizens
Manchester United : @UtdIndonesia
Liverpool : @LFC_ID
Spurs : @IndoSpurs
Everton : @IndoEvertonian

Tambahan informasi dari @bolajerman: "Kurang afdol kalo gak nyebut BeIn Sport (grup Al-Jazeera). Karena Nexmedia, Orange, Firstmedia nyiarin BPL via channel BeIn tersebut"

beIN Sport adalah channel olahraga global yang berafiliasi dengan Al Jazeera Media Networks. Di Indonesia, beIN mulai masuk sejak Juli 2013 dengan hak atas siaran Serie A, French Ligue 1, Major League Soccer (MLS), dan Liga Brazil. Semua hak siar ini dishare ke TV berbayar. Untuk tayangan Liga Inggris, mereka menjalin partnership dengan MP & Silva dari musim 2013/14 hingga 2015/16.

BeIN SPORT memiliki tiga channel high-definition untuk tayangan sepakbola, termasuk Liga Inggris: beIN SPORT 1 HD, beIN SPORT 2 HD dan beIN SPORT 3 Premier League HD. Ketiga channel tersebut bisa dinikmati melalui Orange TV and NexMedia, sedangkan beIN SPORT 1 HD dan 2 HD melalui First Media.

-------------------------------------------------------------------------------
Source: Kepastian Hak Siar Liga Inggris Musim 2013-2014 | Sepaxbola http://www.sepaxbola.info/2013/07/hak-siar-liga-inggris.html#ixzz2bcNRZmBj
Read more »»  

Minggu, 04 Agustus 2013

Jadwal Liga Inggris 2013-2014


Jadwal liga inggris sudah dirilis oleh pihak panitia BPL, jadwal pertandingan liga inggris minggu ini tetap akan diudate setiap minggunya. Jadwal siaran liga inggris 2013-2014 ini mendapatkan tempat teristimewa di Indosiar, SCTV, orange tv, net tv, dan nexmedia tv kabel berlangganan.

Berikut ini jadwal lengkap Liga Primer Inggris 2013/2014 seperti dilansir situs resminya:

17 Agustus 2013

Arsenal v Aston Villa
Chelsea V Hull City
Crystal Palace v Tottenham Hotspur
Liverpool v Stoke City
Manchester City v Newcastle United
Norwich City v Everton
Sunderland v Fulham
Swansea City v Manchester United
West Bromwich Albion v Southampton
West Ham United v Cardiff City

24 Agustus 2013

Aston Villa v Liverpool
Cardiff City v Manchester City
Everton v West Bromwich Albion
Fulham v Arsenal
Hull City v Norwich City
Manchester United vs Chelsea
Newcastle United v West Ham United
Southampton v Sunderland
Stoke City v Crystal Palace
Tottenham Hotspur v Swansea City

31 Agustus 2013

Arsenal v Tottenham Hotspur
Cardiff City v Everton
Chelsea V Aston Villa
Crystal Palace v Sunderland
Liverpool v Manchester United
Manchester City v Hull City
Newcastle United v Fulham
Norwich City v Southampton
West Bromwich Albion v Swansea City
West Ham United v Stoke City

14 September 2013

Aston Villa v Newcastle United
Everton v Chelsea
Fulham v West Bromwich Albion
Hull City v Cardiff City
Manchester United vs Crystal Palace
Southampton v West Ham United
Stoke City vs Manchester City
Sunderland v Arsenal
Swansea City v Liverpool
Tottenham Hotspur v Norwich City

21 September 2013

Arsenal v Stoke City
Cardiff City v Tottenham Hotspur
Chelsea V Fulham
Crystal Palace v Swansea City
Liverpool v Southampton
Manchester City v Manchester United
Newcastle United v Hull City
Norwich City v Aston Villa
West Bromwich Albion v Sunderland
West Ham United v Everton

28 September 2013

Aston Villa v Manchester City
Everton v Newcastle United
Fulham v Cardiff City
Hull City v West Ham United
Manchester United vs West Bromwich Albion
Southampton v Crystal Palace
Stoke City vs Norwich City
Sunderland v Liverpool
Swansea City v Arsenal
Tottenham Hotspur v Chelsea

5 Oktober 2013

Cardiff City v Newcastle United
Fulham v Stoke City
Hull City v Aston Villa
Liverpool v Crystal Palace
Manchester City v Everton
Norwich City v Chelsea
Southampton v Swansea City
Sunderland v Manchester United
Tottenham Hotspur v West Ham United
West Bromwich Albion v Arsenal

19 Oktober 2013

Arsenal v Norwich City
Aston Villa v Tottenham Hotspur
Chelsea V Cardiff City
Crystal Palace v Fulham
Everton v Hull City
Manchester United vs Southampton
Newcastle United v Liverpool
Stoke City v West Bromwich Albion
Swansea City vs Sunderland
West Ham United v Manchester City

26 Oktober 2013

Aston Villa v Everton
Chelsea V Manchester City
Crystal Palace v Arsenal
Liverpool v West Bromwich Albion
Manchester United vs Stoke City
Norwich City v Cardiff City
Southampton v Fulham
Sunderland v Newcastle United
Swansea City v West Ham United
Tottenham Hotspur v Hull City

2 November 2013

Arsenal v Liverpool
Cardiff City v Swansea City
Everton v Tottenham Hotspur
Fulham v Manchester United
Hull City v Sunderland
Manchester City v Norwich City
Newcastle United v Chelsea
Stoke City v Southampton
West Bromwich Albion v Crystal Palace
West Ham United v Aston Villa

9 November 2013

Aston Villa v Cardiff City
Chelsea V West Bromwich Albion
Crystal Palace v Everton
Liverpool v Fulham
Manchester United vs Arsenal
Norwich City v West Ham United
Southampton v Hull City
Sunderland v Manchester City
Swansea City vs Stoke City
Tottenham Hotspur v Newcastle United

23 November 2013

Arsenal v Southampton
Cardiff City v Manchester United
Everton v Liverpool
Fulham v Swansea City
Hull City v Crystal Palace
Manchester City v Tottenham Hotspur
Newcastle United v Norwich City
Stoke City v Sunderland
West Bromwich Albion v Aston Villa
West Ham United v Chelsea

30 November 2013

Aston Villa v Sunderland
Cardiff City v Arsenal
Chelsea V Southampton
Everton v Stoke City
Hull City v Liverpool
Manchester City v Swansea City
Newcastle United v West Bromwich Albion
Norwich City v Crystal Palace
Tottenham Hotspur v Manchester United
West Ham United v Fulham

3 Desember 2013

Arsenal v Hull City, 07:45
Crystal Palace v West Ham United, 20:00
Liverpool v Norwich City, 08:00
Manchester United vs Everton, 07:45
Southampton v Aston Villa, 07:45
Stoke City v Cardiff City, 07:45
Sunderland v Chelsea, 07:45
Swansea City vs Newcastle United, 07:45
West Bromwich Albion v Manchester City, 20:00

4 Desember 2013

Fulham v Tottenham Hotspur, 08:00

7 Desember 2013

Arsenal v Everton
Crystal Palace v Cardiff City
Fulham v Aston Villa
Liverpool v West Ham United
Manchester United vs Newcastle United
Southampton vs Manchester City
Stoke City v Chelsea
Sunderland v Tottenham Hotspur
Swansea City v Hull City
West Bromwich Albion v Norwich City

14 Desember 2013

Aston Villa v Manchester United
Cardiff City v West Bromwich Albion
Chelsea V Crystal Palace
Everton v Fulham
Hull City v Stoke City
Manchester City v Arsenal
Newcastle United v Southampton
Norwich City v Swansea City
Tottenham Hotspur v Liverpool
West Ham United v Sunderland

21 Desember 2013

Arsenal v Chelsea
Crystal Palace v Newcastle United
Fulham v Manchester City
Liverpool v Cardiff City
Manchester United vs West Ham United
Southampton v Tottenham Hotspur
Stoke City v Aston Villa
Sunderland v Norwich City
Swansea City v Everton
West Bromwich Albion v Hull City

26 Desember 2013

Aston Villa v Crystal Palace
Cardiff City v Southampton
Chelsea V Swansea City
Everton v Sunderland
Hull City v Manchester United
Manchester City v Liverpool
Newcastle United v Stoke City
Norwich City v Fulham
Tottenham Hotspur v West Bromwich Albion
West Ham United v Arsenal

28 Desember 2013

Aston Villa v Swansea City
Cardiff City v Sunderland
Chelsea v Liverpool
Everton v Southampton
Hull City v Fulham
Manchester City v Crystal Palace
Newcastle United v Arsenal
Norwich City v Manchester United
Tottenham Hotspur v Stoke City
West Ham United v West Bromwich Albion

1 Januari 2014

Arsenal v Cardiff City
Crystal Palace v Norwich City
Fulham v West Ham United
Liverpool v Hull City
Manchester United vs Tottenham Hotspur
Southampton v Chelsea
Stoke City v Everton
Sunderland v Aston Villa
Swansea City vs Manchester City
West Bromwich Albion v Newcastle United

11 Januari 2014

Aston Villa v Arsenal
Cardiff City v West Ham United
Everton v Norwich City
Fulham v Sunderland
Hull City v Chelsea
Manchester United vs Swansea City
Newcastle United v Manchester City
Southampton v West Bromwich Albion
Stoke City v Liverpool
Tottenham Hotspur v Crystal Palace

18 Januari 2014

Arsenal v Fulham
Chelsea V Manchester United
Crystal Palace v Stoke City
Liverpool v Aston Villa
Manchester City v Cardiff City
Norwich City v Hull City
Sunderland v Southampton
Swansea City vs Tottenham Hotspur
West Bromwich Albion v Everton
West Ham United v Newcastle United

28 Januari 2014

Aston Villa v West Bromwich Albion, 07:45
Crystal Palace v Hull City, 08:00
Liverpool v Everton, 08:00
Manchester United vs Cardiff City, 19:45
Norwich City v Newcastle United, 07:45
Southampton v Arsenal, 19:45
Sunderland v Stoke City, 19:45
Swansea City v Fulham, 19:45

29 Januari 2014

Chelsea V West Ham United, 07:45
Tottenham Hotspur v Manchester City, 07:45
1 Februari 2014
Arsenal v Crystal Palace
Cardiff City v Norwich City
Everton v Aston Villa
Fulham v Southampton
Hull City v Tottenham Hotspur
Manchester City v Chelsea
Newcastle United v Sunderland
Stoke City v Manchester United
West Bromwich Albion v Liverpool
West Ham United v Swansea City

8 Februari 2014

Aston Villa v West Ham United
Chelsea V Newcastle United
Crystal Palace v West Bromwich Albion
Liverpool v Arsenal
Manchester United vs Fulham
Norwich City vs Manchester City
Southampton v Stoke City
Sunderland v Hull City
Swansea City v Cardiff City
Tottenham Hotspur v Everton

11 Februari 2014

Arsenal v Manchester United, 07:45
Cardiff City v Aston Villa, 07:45
Hull City v Southampton, 19:45
Stoke City v Swansea City, 07:45
West Bromwich Albion v Chelsea, 20:00
West Ham United v Norwich City, 19:45
12 Februari 2014
Everton v Crystal Palace, 19:45
Fulham v Liverpool, 20:00
Manchester City v Sunderland, 07:45
Newcastle United v Tottenham Hotspur, 19:45

22 Februari 2014

Arsenal v Sunderland
Cardiff City v Hull City
Chelsea V Everton
Crystal Palace v Manchester United
Liverpool v Swansea City
Manchester City v Stoke City
Newcastle United v Aston Villa
Norwich City v Tottenham Hotspur
West Bromwich Albion v Fulham
West Ham United v Southampton

1 Maret 2014

Aston Villa v Norwich City
Everton v West Ham United
Fulham v Chelsea
Hull City v Newcastle United
Manchester United vs Manchester City
Southampton v Liverpool
Stoke City v Arsenal
Sunderland v West Bromwich Albion
Swansea City v Crystal Palace
Tottenham Hotspur v Cardiff City

8 Maret 2014

Arsenal v Swansea City
Cardiff City v Fulham
Chelsea V Tottenham Hotspur
Crystal Palace v Southampton
Liverpool v Sunderland
Manchester City v Aston Villa
Newcastle United v Everton
Norwich City v Stoke City
West Bromwich Albion v Manchester United
West Ham United v Hull City

15 Maret 2014

Aston Villa v Chelsea
Everton v Cardiff City
Fulham v Newcastle United
Hull City v Manchester City
Manchester United vs Liverpool
Southampton vs Norwich City
Stoke City v West Ham United
Sunderland v Crystal Palace
Swansea City v West Bromwich Albion
Tottenham Hotspur v Arsenal

22 Maret 2014

Aston Villa v Stoke City
Cardiff City v Liverpool
Chelsea v Arsenal
Everton v Swansea City
Hull City v West Bromwich Albion
Manchester City v Fulham
Newcastle United v Crystal Palace
Norwich City v Sunderland
Tottenham Hotspur v Southampton
West Ham United v Manchester United

29 Maret 2014

Arsenal v Manchester City
Crystal Palace v Chelsea
Fulham v Everton
Liverpool v Tottenham Hotspur
Manchester United vs Aston Villa
Southampton v Newcastle United
Stoke City v Hull City
Sunderland v West Ham United
Swansea City vs Norwich City
West Bromwich Albion v Cardiff City

5 April 2014

Aston Villa v Fulham
Cardiff City v Crystal Palace
Chelsea V Stoke City
Everton v Arsenal
Hull City v Swansea City
Manchester City v Southampton
Newcastle United v Manchester United
Norwich City v West Bromwich Albion
Tottenham Hotspur v Sunderland
West Ham United v Liverpool

12 April 2014

Arsenal v West Ham United
Crystal Palace v Aston Villa
Fulham v Norwich City
Liverpool v Manchester City
Manchester United vs Hull City
Southampton v Cardiff City
Stoke City v Newcastle United
Sunderland v Everton
Swansea City v Chelsea
West Bromwich Albion v Tottenham Hotspur

19 April 2014

Aston Villa v Southampton
Cardiff City v Stoke City
Chelsea V Sunderland
Everton v Manchester United
Hull City v Arsenal
Manchester City v West Bromwich Albion
Newcastle United v Swansea City
Norwich City v Liverpool
Tottenham Hotspur v Fulham
West Ham United v Crystal Palace

26 April 2014

Arsenal v Newcastle United
Crystal Palace v Manchester City
Fulham v Hull City
Liverpool v Chelsea
Manchester United vs Norwich City
Southampton v Everton
Stoke City v Tottenham Hotspur
Sunderland v Cardiff City
Swansea City vs Aston Villa
West Bromwich Albion v West Ham United

3 Mei 2014

Arsenal v West Bromwich Albion
Aston Villa v Hull City
Chelsea V Norwich City
Crystal Palace v Liverpool
Everton v Manchester City
Manchester United vs Sunderland
Newcastle United v Cardiff City
Stoke City v Fulham
Swansea City v Southampton
West Ham United v Tottenham Hotspur

11 Mei 2014

Cardiff City v Chelsea
Fulham v Crystal Palace
Hull City v Everton
Liverpool v Newcastle United
Manchester City v West Ham United
Norwich City v Arsenal
Southampton v Manchester United
Sunderland v Swansea City
Tottenham Hotspur v Aston Villa
West Bromwich Albion v Stoke City
Read more »»